Kamerun

Bayar Utang Sebelumnya

KAMERUN merupakan tim yang penuh kejutan di Piala Dunia. Memang, dari lima Piala Dunia yang sudah dirasakan, mereka selalu tersingkir di putaran pertama, kecuali di Piala Dunia 1990 Italia. Namun, mereka selalu melahirkan kejutan-kejutan, baik yang menggembirakan maupun yang memalukan.

Piala Dunia 1982 Spanyol adalah Piala Dunia pertama yang diikuti Kamerun. Meski sering tersingkir di babak awal, mereka tampil mengesankan saat menahan imbang Italia 1-1.

Piala Dunia 1990 Italia, yang menjadi penampilan kedua Kamerun di Piala Dunia, mereka membuat kejutan lebih besar. Di partai pembuka lawan juara bertahan Argentina, Kamerun tak diunggulkan. Namun, Roger Milla dkk malah mengalahkan Diego Maradona dkk 1-0.

Tak hanya itu, mereka melaju sampai babak perempat final. Meski tersingkir setelah kalah 2-3 di tangan Inggris, Kamerun menjadi buah bibir masyarakat sepak bola dunia. Nama Roger Milla, tentu tak lepas dari perbincangan itu.

Berbekal pengalaman di Italia itu, Kamerun menatap penampilan mereka yang ketiga di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dengan lebih optimistis. Sayang, mereka mengalami langkah mundur setelah tersingkir di babak awal dengan rentetan hasil imbang 2-2 lawan Swedia dan sepasang kekalahan 0-3 dari Brasil dan 1-6 dari Rusia. Uang saku yang minim dinilai sebagai faktor hasil buruk tersebut.

Satu-satunya pemain Kamerun yang sedikit menikmati Piala Dunia 1994 Amerika Serikat ini adalah Roger Milla. Ia terpilih sebagai pencetak gol tertua sepanjang sejarah Piala Dunia, yaitu 42 tahun. Ironisnya, satu gol Milla terjadi ketika timnya dibantai 1-6 oleh Rusia.

Setelah itu, Kamerun sulit bangkit. Pada Piala Dunia 1998 Perancis, mereka juga tersingkir setelah hanya menghuni dasar klasemen Grup E dengan dua poin, hasil  kekalahan 0-3 dari Italia dan dua hasil imbang lawan Austria dan Cile. Pada Piala Dunia 2002 Jepang-Korea Selatan, Kamerun tersingkir setelah hanya membukukan empat poin hasil sekali menang, sekali seri, dan sekali kalah.

Setelah kemudian gagal lolos ke Piala Dunia 2006 Jerman, Samuel Eto’o dkk merasa punya utang besar. Mereka pun tampil penuh semangat dan memperbaiki diri di kualifikasi Piala Dunia 2010. Hasilnya memuaskan, Eto’o dkk lolos ke putaran final.

Kini, mereka memiliki materi pemain yang cukup meyakinkan. Selain ada Eto’o, juga memiliki Carlos Kameni, Alexander Song Billong dan lainnya. Wajar jika mereka ingin menembus kegagalan ke putaran final Piala Dunia 2006 dengan prestasi lebih baik di Afsel. Apalagi, Kamerun juga akan dibantu oleh faktor lingkungan fisik Afsel. Publik Kamerun setidaknya boleh berharap, Eto’o dkk bisa mengulang prestasi 1990. (Tjatur Wiharyo)

Statistik
Topskor:
Samuel Eto’o (9 gol)

Skuad Kamerun
Kiper:

Carlos Kameni, Souleymanou Hamidou

Bek:
Sebastien Bassong, Andre Bikey, Benoit Assou-Ekotto, Nicolas N’Koulou, Rigobert Song

Gelandang:
Achille Emana, Jean Makoun, Mandjeck Georges, Somen Tchoyi, Stephane, M’bia Etoundi, Eyong Enoh, Aurelien Chedjou Fongang, Alexandre Song Billong, Landry N’Guemo, Geremi

Penyerang:
Henri Bedimo, Daniel Ngom Kome, Pierre Webo, Samuel Eto’o, Albert Ze Meyong, Paul Alo’o Efoulou

Paul Le Guen: Pelatih Jenius

KAMERUN adalah tim nasional pertama yang ditangani Paul Le Guen. Mengingat ia baru menjabat pelatih Kamerun sejak Juli 2009, keberhasilan membawa Kamerun ke putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, melambungkan harapan publik, Kamerun akan bersinar di Afrika Selatan bersamanya.

Melihat rekam jejak kepelatihan Le Guen, ia memang terhitung jenius. Ia mengawali karier kepelatihan di Stade Rennais pada 1998. Pada 2002, ia menukangi Olympique Lyonnais dan sukses mengantar tim ini meraih tiga gelar juara Ligue 1 tiga musim berturut-turut. Setelah itu, ia mengundurkan diri dan pada 2006 menangani Glasgow Ranger. Semusim di Rangers, Le Guen hengkang ke Paris Saint-Germain, sebelum akhirnya melatih Kamerun.

Memang, prestasi Le Guen di Kamerun baru akan terlihat di Afrika Selatan, Juni mendatang. Namun, membandingkan masa kerjanya di Kamerun yang pendek dan sukses yang diberikannya, tak berlebihan bila publik mengharapkan Le Guen akan membawa keajaiban bagi “Tim Singa Padang Pasir” ini.

Meski dikenal sebagai pelatih yang keras, Le Guen memiliki profesionalisme tinggi. Ini yang membuatnya disegani para pemain, juga memudahkannya untuk meluluhkan ego pemain demi membangun tim yang solid.

Selain itu, Le Guen juga cerdas dalam membangun strategi fleksibel, memanfaatkan sumber daya yang ada. Berbeda dengan kultur sepak bola Eropa yang mengandalkan keterampilan dan taktik, di Kamerun Le Guen mengeksplorasi potensi fisik pemain.

Le Guen yakin, dengan kecepatan, kekuatan fisik, dan stamina, Kamerun mampu bersaing dengan tim-tim besar di Afsel nanti. Keyakinannya bertambah karena pemain Kamerun tak lagi membutuhkan adaptasi dengan lingkungan fisik Afsel, sesuatu yang dikhawatirkan sejumlah klub Eropa. Baginya, faktor fisik memiliki peran penting yang memengaruhi konsistensi permainan.

Di Afsel, Le Guen bakal mengandalkan striker Samuel Eto’o. Menurutnya, Eto’o merupakan satu dari empat penyerang terbaik dunia saat ini. Selain itu, Eto’o sendiri sudah cocok dengan formasi 4-4-2 Le Guen. Bila tak mendapat gangguan cedera, Kamerun bisa dipastikan tampil solid dan berbahaya.

Samuel Eto’o: Singa Ganas Haus Gol

TAK ada yang meragukan Samuel Eto’o sebagai striker. Dia sudah dikenal dunia sebagai striker haus gol.

Kamerun beruntung memilikinya. Ia merupakan salah satu penyerang paling ditakuti saat ini. Ibarat singa, dia amat ganas dan haus gol.

Namun, untuk sampai ke level itu, Eto’o harus menempuh perjalanan panjang. Bahkan, bisa disebut, ia adalah bintang yang telat bersinar.

Memang, karier sepak bola profesional Eto’o dimulai di Real Madrid pada 1997. Namun, setelah hanya tampil sebanyak tiga kali, Eto’o dipinjamkan ke Leganes, Espanyol, dan Real Mallorca selama tiga tahun.

Di Mallorca, Eto’o menemukan kembali ketajamannya. Mengingat Mallorca merupakan tim gurem, torehan 28 gol dari 120 penampilan merupakan prestasi besar, yang belum tentu bisa dicapai penyerang lain.

Sukses di Mallorca, Real Madrid yang masih memiliki separo nilai Eto’o, enggan menariknya. Eto’o malah dibiarkan menjadi pemain Barcelona. Di klub itu, Eto’o semakin menggila dan mendatangkan banyak gelar bergensi buat Barcelona.

Musim 2008-2009 bisa dikatakan musim terbaik dalam karier Eto’o hingga sekarang. Dengan torehan 34 gol dan enam assist, ia mengantar Barcelona meraih tiga gelar: Divisi Primera, Copa del Rey, dan Liga Champions.

Eto’o kemudian dijual ke Inter Milan untuk dibarter dengan Zlatan Ibrahimovic. Terlepas dari itu, ia akan tetap dikenang sebagai legenda Camp Nou. Di Inter pun, kemampuannya belum habis. Dia menjadi striker andalan “I Nerazzurri”.

Karier Eto’o bersama timnas yang dimulai sejak 1996, juga tak kalah bagus. Tercatat, ia telah mencetak 42 gol dalam 89 penampilannya bersama Kamerun. Bahkan, saat ini, ia menjadi pencetak gol terbanyak Kamerun selama kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, dengan total sembilan gol. Tidak berlebihan bila publik Kamerun berharap, Eto’o akan membawa timnas bersinar di Afrika Selatan nanti. Setidaknya  dan rekan-rekannya bisa imengulang kesuksesan Roger Milla dkk di Piala Dunia 1990 Italia, lolos ke perempat final.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: