Inggris

Sang Pelopor Haus Gelar

INGGRIS memang pelopor sepak bola modern. Namun, bukan mereka yang membidani lahirnya FIFA (otoritas sepak bola internasional) dan Piala Dunia.

Inggris masuk anggota FIFA pada 1906. Namun, mereka mengundurkan diri pada 1928. Inggris pun tak mengikuti gelaran Piala Dunia pertama pada 1930. Bergabung lagi ke FIFA pada 1948, Inggris baru merasakan Piala Dunia 1950 di Brasil.

Namun, negeri ini jarang sukses setiap tampil di kejuaraan internasional. Baru pada Piala Dunia 1966 yang digelar di negeri mereka, Inggris sukses menjuarainya. Di final, mereka mengalahkan Jerman Barat melalui perpanjangan waktu. Partai ini menyisakan kontroversi hingga sekarang, karena gol Geoff Hurst sebenarnya belum melewati garis gawang.

Setelah sukses itu, prestasi terbaik mereka adalah masuk semifinal Piala Dunia 1990. Enam tahun kemudian, mereka menjadi tuan rumah Piala Eropa. Berharap mengulang sukses Piala Dunia 1996, mereka gagal di semifinal.

Itu pula sebabnya, “The Three Lions” sangat haus gelar internasional. Mereka tak ingin dicap pelopor sepak bola modern yang kemudian tertinggal dari tim lainnya.

Kesialan kembali menimpa mereka pada 2008. Memiliki liga terbaik dan segudang pemain, mereka malah gagal maju ke putaran final Piala Eropa di Swiss dan Austria. Kegagalan itu amat memukul rakyat Inggris. Apalagi, sepak bola sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup mereka.

Pelatih Steve McClaren langsung dipecat dan Inggris berharap besar kepada pelatih Italia, Fabio Capello. Pelatih bertangan dingin ini dikontrak Inggris pada Desember 2007.

Hasilnya terasa. Capello langsung mengubah tradisi dan budaya pemain. Jika sebelumnya mereka bersikap seperti selebritis dan bebas membawa pacar atau istrinya ketika tampil di turnamen, kini tidak lagi.

Capello menerapkan kedisiplinan tinggi. Pemain tak bisa seenaknya berpesta atau hura-hura. Ikut peraturannya, atau tidak masuk timnas. Itu yang ditekankan Capello.

Inggris pun bangkit. Mereka menjadi tim yang kembali ditakuti. Dalam perjalanan babak kualifikasi, Inggris tampil memesona. Mereka hanya kalah sekali dan menjuarai Grup 6 dengan meyakinkan.

Kroasia yang sebelumnya menggagalkan Inggris lolos ke Piala Eropa 2008, dihajar 4-1 dan 5-1. Satu-satunya kekalahan terjadi di kandang Ukraina (0-1). Namun, secara keseluruhan Inggris telah bangkit sebagai kekuatan baru yang makin menakutkan. Bahkan, tim ini difavoritkan juara Piala Dunia 2010, selain Spanyol dan Belanda. (Hery Prasetyo)

Statistik
Top skorer: Wayne Rooney (9 gol)

Daftar Pemain
Kiper:

Ben Foster, David James, Robert Green,
Defender:
Rio Ferdinand, Ashley Cole, Glen Johnson, John Terry, Wes Brown, Wayne Bridge, Joleon Lescott

Gelandang:

Aaron Lennon, David Beckham, Frank Lampard, Gareth Barry, James Milner, Jermaine Jenas, Joe Cole, Matt Upson, Michael Carrick, Phil Jagielka, Steven Gerrard, Stewart Downing

Penyerang:
Peter Crouch, Shaun Wright-Phillips, Theo Walcott, Wayne Rooney, Jermain Defoe, Ashley Young, Emile Heskey, Gabriel Agbonlahor, Carlton Cole

Fabio Capello: Sentuhan Emas Tangan Besi

SETELAH gagal ke putaran final Piala Eropa 2008, Inggris langsung melengserkan pelatih Steve McClaren. Calon pengganti pun bermunculan, dari Arsene Wenger, Jose Mourinho, sampai Sir Alex Ferguson.

Namun, para kandidat itu sulit direkrut dan tiba-tiba muncul nama Fabio Capello. Mantan pelatih AC Milan, Real Madrid, AS Roma, dan Juventus itu sempat diragukan. Bukan karena kemampuannya, tapi persoalan budaya dan komunikasinya. Sifatnya yang keras dan amat disiplin, dinilai tak cocok dengan kultur sepak bola Inggris. Namun, Mourinho, Wenger, dan Ferguson memberi dukungan. Menurut mereka, Capello pelatih yang tepat untuk Timnas Inggris.

Dan, pada Desember 2007, Capello pun ditunjuk FA sebagai pelatih “The Three Lions”. Memang, sempat terjadi syok budaya. Para pemain Inggris yang tadinya bergaya selebritis, tiba-tiba harus bekerja secara disiplin ketat di bawah Capello. Mereka juga tak boleh membawa istri atau pacar setiap bertanding di luar kandang. Bekerja keras, atau tak masuk timnas. Itu semboyan Capello. Bahkan, nama besar Michael Owen pun dia singkirkan, karena sudah terlalu lama tak menunjukkan kemampuan.

Capello juga memiliki kewibawaan besar. Itu yang menjadi salah satu kunci suksesnya. Sehingga, tak satu pun pemain yang berani membantahnya. Bahkan, lambat-laun para pemain Inggris peraya penuh dan hormat kepadanya.

Toh, Capello sebenarnya bukan tipe pemarah. Saat pertandingan persahabatan lawan Belanda, Inggris sempat tertinggal. Di rehat babak pertama, para pemain tertunduk dan mengira Capello akan marah di ruang ganti. Tapi, ternyata tidak.

“Kalian semua punya kemampuan besar. Tertinggal adalah bagian dari pertandingan. Sekarang, di babak kedua kalian tinggal mengejarnya dan kalian mampu,” katanya.

Benar, para pemain Inggris justru semakin bersemangat di babak kedua. Mereka akhirnya mampu mengejar dan menahan Belanda 3-3.

Transformasi sepak bola yang dilakukan Capello terbukti sukses. Inggris yang tadinya sempat hilang kepercayaan diri karena gagal ke Piala Eropa, kemudian naik lagi. Mereka bahkan selalu tampil percaya diri di bawah Capello, hingga mudah lolos ke putaran final Piala Dunia 2010.

Ini satu kesuksesan yang amat ditunggu. Bahkan, kini berkembang keyakinan bahwa Inggris bisa mengulang sukses juara Piala Dunia, seperti pada 1966. Capello sendiri mengatakan, “Tim ini pantas juara dunia.”

Mental juara menjadi faktor lain yang dibawa Capello. Otomatis, ini memengaruhi mentalitas para pemain pula. Meski bertangan dingin, Capello punya sentuhan emas. Tim mana pun yang dia latih, selalu bagus dan sukses meraih prestasi.

Menggantikan Arrigo Sacchi di AC Milan, dia langsung mempersembahkan empat scudetti (1991-92, 1992-93, 1993-94, 1995-96), tiga Piala Super Italia (1992, 1993, 1994), satu Liga Champions (1993-94), dan satu Piala Super Eropa (1994).

Dikontrak Real Madrid, dia langsung menghadirkan gelar Divisi Primera 1996-97. Demikian pula episode keduanya di Madrid pada musim 2006-07. Madrid sempat kesulitan menyaingi dominasi Barcelona. Tapi, begitu Capello datang, Madrid juara Divisi Primera lagi.

Prestasi di AS Roma juga fenomenal. Klub ini hanya sekali juara Liga Serie-A pada 1983. Namun, hadirnya Capello membuat mereka kembali juara pada 2000-01. Padahal, saat itu Inter Milan, AC Milan, dan Juventus sedang memiliki tim yang kuat.

Di Juventus, Capello juga selalu menghadirkan gelar. Dia membawa “La Vecchia Signora” juara Liga Serie-A musim 2004-05 dan 2005-06, meski akhirnya dicabut karena kasus Calciopoli.

Perjalanan Capello sebagai pelatih memang ditaburi sukses. Semua tim yang dia tangani selalu meraih gelar. Keras dan tangan dingin adalah satu sisi kepribadiannya. Tapi, dia punya sentuhan emas yang mampu membawa kesuksesan, termasuk buat Inggris.

Wayne Rooney: Born to Strike

INGGRIS beruntung punya striker seperti Wayne Rooney. Tak hanya bertenaga, tapi juga punya kemampuan mencetak gol yang tajam. Selain itu, Rooney juga bervisi luas, tak egois, bahkan suka membantu pertahanan.

Sudah matang sejak muda, Rooney menggegerkan dunia kala umurnya belum genap 17 tahun. Membela Everton, dia menjadi pencetak gol termuda Premier League. Wajar jika pada 12 Februari 2003, dia sudah menjalani debut bersama Timnas Inggris, saat umurnya baru 18 tahun. Dia menjadi pemain timnas termuda saat melawan Australia.
Bahkan, dia mampu menjadi pencetak gol termuda di Piala Eropa 2004. Namun, rekor itu hanya bertahan empat hari, karena segera dipecahkan pemain muda Swiss, Johan Vonlanthen.

Capello sempat kurang setuju dengan cara bermain Rooney yang terlalu sering turun ke balakang membantu pertahanan. Menurutnya, Rooney seharusnya cukup beroperasi di depan dan konsentrasi mencetak gol.

Namun, Capello akhirnya tahu, justru di situ kelebihannya. Penyerang Manchester United ini bisa liar bergerak ke mana saja dan tiba-tiba muncul dan mencetak gol. Toh, dia tetaplah striker produktif. Membela timnas 55 kali, Rooney sudah membukukan 25 gol.

Menghadapi Piala Dunia 2010, Capello mematenkan dia sebagai striker utama. Rooney bahkan sekarang sedang matang-matangnya. Inggris bisa mengandalkan dirinya. Dia tak hanya punya keterampilan tinggi, tapi juga mental yang kuat.

Hanya, kelemahannya kadang terlalu temperamental. Karena itu pula dia terkena kartu merah di Piala Dunia 2006 saat melawan Portugal. Dia melakukan pelanggaran kepada Ricardo Carvalho, kemudian terlibat percekcokan dengan rekannya seklub, Cristiano Ronaldo.

Diharapkan, Rooney bisa menahan emosinya di Piala Dunia nanti. Jika mampu mengelola emosinya, maka Rooney akan sangat membahayakan buat siapa saja. Rooney memang dilahirkan sebagai striker untuk mencetak gol. Di setiap pertandingan, dia selalu mengancam gawang lawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: