Ghana

Junior Juara, Tinggal Seniornya

GHANA termasuk salah satu negara yang cukup dominan di Benua Afrika, di samping Kamerun dan Nigeria. Meskipun demikian, mereka baru bisa mengecap panggung Piala Dunia pada tahun 2006 lalu, yang diselenggarakan di Jerman.

Tapi perlu di ingat, tim junior mereka pernah juara Piala Dunia U-20 dua kali. Terakhir tahun 2009, mereka mengalahkan Brasil di final. Jika juniornya bisa, maka sang senior pun akan terpacu dan punya kepercayaan diri. Setidaknya, mereka bisa membuat kejutan besar.

Di debutnya tersebut, “The Black Stars” yang minim pengalaman di Piala Dunia ini tampil impresif dan mengejutkan karena mencatat kemenangan atas dua tim kuat, yaitu Republik Ceko dan Amerika Serikat, untuk maju ke putaran kedua. Sayang, perjalanan mereka terhenti karena dijegal oleh goyangan samba Brasil.

Dalam perjalanan sejarah sepak bolanya, Ghana sempat menguak harapan untuk lolos ke pentas paling bergengsi di dunia ini pada tahun 1962. Mereka sangat perkasa di babak kualifikasi, karena berhasil menang dengan agregat 6-3 atas rival terbesarnya, Nigeria. Sayang, asa itu harus pupus karena di partai penentuan, mereka ditaklukkan oleh Maroko sehingga gagal tampil di putaran final.

Namun, di panggung lain (selain Piala Dunia), Ghana mencatat prestasi yang membanggakan. “The Black Stars” sudah empat kali menjadi juara Piala Afrika, masing-masing pada tahun 1963, 1965, 1978 dan 1982. Tim juniornya pun pernah menorehkan tinta emas di ajang Piala Dunia U-20, karena dua kali menjadi juara, termasuk yang terakhir pada 2009 ini, setelah di final mengalahkan Brasil lewat drama adu penalti.

Selain itu, Ghana juga hampir selalu “menelorkan” pemain-pemain top yang pernah menjadi pemain terbaik Afrika, seperti Osei Koffi, Abdulrazak Karim, Ben Acheampong dan George Al Hassan. Tak ketinggalan pula pemain top era 1990-an, Abedi Pele, yang menjadi bintang klub raksasa Liga Perancis, Olympique Marseille, serta striker legendaris, Anthony Yeboah.

Kini, Ghana masih memiliki materi yang mumpuni. Diperkuat sejumlah nama beken yang merumput bersama klub-klub elite Eropa, seperti Stephen Appiah dan Michael Essien, serta gelandang berbakat Sulley Ali Muntari, striker Matthew Amoahand, bek Samuel Kuffour dan John Mensah, mereka kembali lolos ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, setelah melewati perjalanan yang mulus.

Tergabung di Grup D Zona Afrika, Ghana yang gagal di semifinal ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika 2008–kekuatan tim menjadi keropos akibat diganggu cedera dan adanya larangan bermain kepada beberapa pemainnya–, mencatat poin yang nyaris sempurna karena dari lima pertandingan yang dilakoni, mereka hanya kalah satu kali dan sekali seri, ketika melakoni duel yang tak menentukan lagi saat melawan Mali, yang berakhir 2-2.

Nah, ini menjadi indikasi Ghana bisa membuat kejutan lagi, bahkan mungkin lebih bagus dari yang sudah ditorehkan empat tahun silam di Jerman. Tetapi sebelum membuktikan kekuatannya di arena pertarungan antara negara-negara sedunia tersebut, tim besutan pelatih Milovan Rajevac (Serbia) ini harus lebih dulu memperlihatkan taringnya di Piala Afrika bulan Januari nanti, yang bisa dikatakan sebagai pentas ujicoba sebelum terjun ke Piala Dunia Afrika Selatan bulan Juni.

Jika dominan lagi di benua sendiri, apakah Ghana bisa melanjutkannya di Piala Dunia yang juga dilangsung di Afrika? Meski masih minim pengalaman (karena baru akan tampil untuk kedua kalinya), tapi Ghana tetap punya potensi membuat kejutan! Minimal, mereka bisa melewati penyisihan Grup D yang dihuni Jerman sebagai tim unggulan, Australia dan Serbia. (Aloysius Gonsaga Angi Ebo)

Statistik

Top skorer: Manuel Agogo (4 gol)

Daftar pemain
Kiper:
Sammy Adjei, George Owu, Richard Kingston

Defender:
Hans Sarpei, Samuel Kuffour, John Mensah, Emmanuel Pappoe, Illiasu Shilla, Habib Mohamed, Issah Ahmed, Daniel Quaye, John Pantsil

Gelandang:
Michael Essien, Derek Boateng, Stephen Appiah, Sulley Ali Muntari, Eric Addo, Otto Addo, Haminu Dramani

Penyerang:
Alex Tachie-Mensah, Asamoah Gyan, Matthew Amoah, Razak Pimpong

Milovan Rajevac: Disiplin di Atas Segalanya

TAK ada anak emas di dalam tubuh tim! Inilah pernyataan pelatih tim nasional Ghana, Milovan Rajevac, untuk memperingatkan pasukannya agar selalu disiplin, baik di dalam maupun di luar lapangan. Ternyata, pria berusia 55 tahun asal Serbia ini sangat konsisten dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, karena beberapa pemain top Ghana sudah merasakan hal tersebut.

Michael Essien, Sulley Muntari dan Asamoah Gyan adalah tiga pemain bintang yang harus terdepak karena tindakan indisiplinernya. Karena tidak hadir dalam latihan tim tanpa pemberitahuan, nama mereka tidak masuk dalam skuad “The Black Stars” untuk pertandingan persahabatan melawan Angola. Rafevac mengatakan, tak ada toleransi bagi pemain manapun yang ingin merusak tim.

“Tim tidak senang dengan apa yang terjadi. Tetapi hal itu (pemain absen tanpa pemberitahuan) tidak boleh terjadi lagi di tim nasional,” tegas pelatih kelahiran Cajetina, yang sebelum menandatangani kontrak dengan Ghana, menjadi pelatih klub Borac Cacak.

“Kami tidak bisa membiarkan hal tersebut merusak tim, sehingga kami harus membuat keputusan yang tegas dan semua pemain harus disiplin. Kebiasaan itu tidak bisa diterima dan tidak baik bagi mereka sendiri dan semua orang di tim,” tambahnya.

Memang, Rajevac yang mengikat kontrak dua tahun hingga Agustus 2010 dengan gaji 45.000 dollas AS (sekitar 423,225 juta) per bulan ini, tak mau kompromi dengan aturan yang ditegakkannya. Semua itu dilakukan hanya untuk membawa Ghana menuju satu tujuan, yaitu meraih prestasi terbaik di Piala Afrika 2010, serta ajang sepak bola paling bergengsi di jagad ini, Piala Dunia Afrika 2010.

Di Piala Dunia nanti, Ghana tergabung di Grup D bersama dengan Jerman, Australia dan Serbia. Hasil undian ini cukup memberatkan “The Black Stars” karena bertemu tim-tim top yang memang lebih difavoritkan. Di sana ada Jerman yang memiliki tradisi bagus di Piala Dunia, serta Serbia yang menjadi ancaman serius dan harus diwaspadai, seperti yang diutarakan Rajevac.

Menurut pelatih yang ketika menjadi pemain sepak bola mengisi posisi bek tersebut, dia lebih memilih berada satu grup dengan Inggris, dibandingkan jika harus melawan Brasil, Spanyol, Argentina dan Serbia. Pasalnya, negara-negara tersebut selalu menunjukkan permainan yang menawan.

“Inggris memiliki pelatih yang hebat. Tetapi saya pikir, Ghana tak menghadapi persoalan serius jika harus menghadapi mereka. Semua tim tak masalah, tetapi saya tidak suka Brasil, Spanyol, Argentina dan Serbia. Mereka bermain sangat bagus dan saya ingin menghindarinya di penyisihan grup. Kalau pun bertemu, mungkin di perempat final dan selanjutnya,” ungkap Rajevac kepada KickOff.com.

Well, hasil undian tak sejalan dengan harapannya. Karena itu, Rajevac harus bisa menyiasati kenyataan yang harus dihadapi di Afrika Selatan nanti sehingga mereka bisa mewujudkan ekspektasi para pecinta sepak bola Ghana. Minimal, Ghana harus bisa mengulangi prestasi empat tahun lalu ketika melakukan debutnya di Piala Dunia Jerman, di mana mereka menembus babak kedua.

Sanggupkah Rajevac merealisasikannya? Memiliki tim dengan materi yang bagus serta penegakkan disiplin yang ketat, bukan hal yang mustahil bagi Rajevac untuk membawa “The Black Stars” bersinar di panggung Piala Dunia Afrika Selatan.

Michael Essien: “Si Bison” Serbabisa


SEJATINYA, Michael Essien yang kini memperkuat klub Chelsea adalah seorang pemain sepak bola yang menempati posisi gelandang. Tetapi, jika situasi dan kondisi mengharuskannya berubah posisi, maka pemain Ghana ini bisa melakukan tugas barunya itu dengan sangat baik tanpa harus mengurangi kualitas permainannya.

Ya, Essien bisa memainkan beberapa peran yang menjadikannya sosok yang penting dalam sebuah tim. Dia menjelma jadi seorang gelandang menyerang ketika mereka sedang menggempur pertahan lawan. Tetapi jika kondisi sebaliknya, Essien menjadi perusak irama permainan lawan karena dia lebih dulu memutus alur permainan di lapangan tengah.

Tak cuma itu. Ketika lawan lengah, kadang Essien pun beroperasi di sisi kiri atau kanan lapangan yang membuat posisinya tidak terpantau sehingga dia bisa dengan leluasa memberikan umpan kepada rekannya untuk mencetak gol, atau dirinya sendiri yang mengeksekusi si kulit bundar untuk mengoyak jala lawan.

Takling keras dan stamina yang nyaris tak pernah habis itu, membuat Essien menjelma jadi nyawa tim. Ini pula yang membuat dia mendapat julukan “The Bison”–sejenis kerbau.

Nah, kemampuan sekaligus merupakan kelebihannya tersebut yang membuat Essien menjadi pemain idaman bagi semua pelatih untuk menggaetnya. Tak heran jika Chelsea tak segan-segan mengeluarkan dana 24,4 juta poundsterling (sekitar Rp 378,240 miliar) untuk membelinya dari Olympique Lyon pada tahun 2007–yang membuat Essien pemain Afrika termahal di dunia sampai tahun 2009, sebelum Emmanuel Adebayor memecahkannya ketika dibeli Manchester City pada musim panas 2009 dari Arsenal dengan harga 25 juta poundsterling (sekitar Rp 387,541 miliar).

Ternyata, harga yang dibayar sebanding dengan apa yang diberikan. Keberadaan Essien membuat lini tengah Chelsea sangat seimbang dan “The Blues” pun menjelma menjadi salah satu klub yang paling disegani di Inggris, bahkan di Eropa.

Di level internasional, peran Essien juga sangat penting meskipun gelandang berusia 27 tahun ini tidak terlalu produktif dalam membobol gawang lawan. Akan tetapi, dari kakinya kerab lahir sejumlah peluang yang bisa dikonversi rekan-rekannya menjadi gol dan membawa “The Black Stars” meraih kemenangan, hingga mereka untuk kedua kalinya secara berturut-turut tampil di ajang sepak bola paling bergengsi di muka bumi ini, Piala Dunia.

Sekarang, Ghana sudah menjejakkan kakinya di Afrika Selatan dan mereka harus lebih dulu bertarung dengan Jerman, Australia serta Serbia, untuk memperebutkan tiket ke babak kedua. Di sini, peran Essien kembali diharapkan agar bisa membawa Ghana melangkah lebih jauh dari prestasi yang diraih empat tahun lalu di Jerman, ketika mereka berhasil melewati babak penyisihan grup, sebelum disingkirkan Brasil pada fase berikutnya.

Sanggupkah “Si Bison” menyeruduk semua lawannya agar Ghana terus berkiprah? Kita tunggu saja aksi Essien di Afrika Selatan.

LOU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: