Denmark

Dinamit yang Siap Meledak

SEPAK BOLA Denmark sudah lama terbentuk. Federasi sepak bola setempat atau DBU sudah ada sejak 120 tahun lalu. Namun, timnas mereka perlu waktu hampir seabad untuk masuk ke jajaran tim elit di Piala Dunia.

Tim “Dinamit”, begitulah julukan bagi tim nasional Denmark. Sebutan ini seolah begitu menyeramkan bagi lawan karena negara Skandinavia tersebut bisa meledakkan tim mana pun di Piala Dunia. Kenyataan berbicara lain sebab “Danish Dynamite” baru tiga kali lolos ke putaran final.

Di Piala Dunia pertama mereka, tahun 1986, Denmark berhasil menembus fase grup, tapi kalah dari Spanyol di putaran kedua. Denmark membutuhkan waktu 12 tahun untuk kembali ke pertarungan elite dunia ini, tapi langsung merangsek dan berhasil lolos ke perempat final Perancis 1998. Empat tahun kemudian, mereka kembali lolos ke putaran final, tapi hanya mengulang hasil yang sama pada 1986.

Meski demikian, masa-masa gemilang Denmark justru terjadi di ajang Piala Eropa. Pada Euro 1992, tim ini berhasil menyabet gelar juara pertama dalam sejarah sepak bola negeri tersebut. Pelatih Richard Moller Nielsen waktu itu sempat menghadapi dilema karena berseteru dengan bintang Denmark, Michael Laudrup. Namun, Nielsen tak kalah akal karena ia masih memiliki gelandang kuat yang tak lain adalah adik Michael, Brian Laudrup. Di lini belakang, Nielsen mengandalkan kiper terbaiknya, Peter Schmeichel.

Dengan kekuatan seperti itu, Denmark mampu memberikan kejutan di turnamen tersebut. Juara bertahan Belanda disikat di babak semifinal lewat babak adu penalti. Juara dunia Jerman pun harus mengakui kekalahan 0-2 di partai final.

Kehebatan Nielsen dan Denmark ternyata berhenti di tahun tersebut. Pada tahun-tahun selanjutnya, Nielsen selalu gagal memberi hasil terbaik bagi timnya, bahkan meskipun Michael Laudrup bersedia bermain di bawah asuhannya. Di Piala Dunia 1994, Denmark gagal masuk menembus babak kualifikasi. Dalam Euro 1996, mereka pun tak mampu melewati fase grup.

Usai kegagalan di Euro 1996 itu, Nielsen digantikan oleh Bo Johansson. Pelatih asal Swedia ini kembali membuka harapan baru bagi Denmark setelah tim tersebut berhasil mencapai perempat final Piala Dunia 1998 di Perancis. Akan tetapi, kutukan di Piala Eropa kembali terjadi pada 2000 dan Johansson pun harus lengser dan digantikan oleh Morten Olsen hingga sekarang.

Tren naik-turun pun kembali menghiasi prestasi pelatih baru Denmark. Skuad “Olsen-Baden” kembali tampil di perempat final Piala Eropa 2004. Setelah itu, prestasi mereka jeblok lagi. Denmark tak lolos kualifikasi Piala Dunia 2006 di Jerman, bahkan Euro 2008.

Begitu Denmark kembali lolos ke putaran final PD 2010, Olsen seolah menemukan keyakinan besar atas timnya. Apalagi, Denmark berhasil menjadi pemimpin Grup 1 zona Eropa dengan menomorduakan Portugal. Dalam kualifikasi, mereka hanya sekali kalah dari Hungaria meski sepanjang kualifikasi jarang menampilkan skuad terbaik.

“Ini (memimpin grup kualifikasi) menjadi yang pertama bagi sepak bola Denmark dan pencapaian luar biasa,” kata Olsen dalam situs FIFA.com. “Kami beruntung pada beberapa laga, setiap tim perlu itu. Namun, kami juga tak beruntung karena cedera. Kami memakai 37 atau 38 pemain secara keseluruhan.”

Dengan hasil mengesankan sepanjang babak kualifikasi itu, wajar jika kemudian FIFA menempatkan tim ini sebagai favorit lapis kedua. Di Grup E, Denmark hanya kalah kelas dari Belanda dan masih unggul di atas Jepang dan Kamerun.

Jika saat meledak mereka membuat kejutan dan menjuarai Piala Eropa 1992, kali ini pun mereka punya potensi ledakan besar. Jika itu terjadi, kejutan besar pun bisa memesona banyak orang. (Laksono Hari Wiwoho)

Statistik
Top skorer:
Soren Larsen (5 gol)

Pemain
Kiper:

Jesper Christiansen, Stephan Andersen

Belakang:
Chris Sorensen, Daniel Agger, Jim Larsen, Kasper Bogelund, Kris Stadsgaard, Kristian Bak Nielsen, Michael Gravgaard, Michael Jakobsen, Simon Poulsen, Thomas Rasmussen

Tengah:
Hjalte Norregaard, Jonas Borring, Leon Andreasen, Martin Bergvold, Martin, Vingaard, Michael Silberbauer, Thomas Augustinussen, Thomas Kahlenberg, Thomas Kristensen

Depan:
Dennis Rommedahl, Jon Dahl Tomasson, Lasse Schone, Michael Krohn-Dehli, Morten Nordstrand, Nicklas Bendtner, Soren Larsen

Morten Olsen: Kegemilangan “Gembong Penjahat”


PUBLIK sepak bola Denmark mengenal Morten Olsen sebagai bek tangguh. Dia adalah kapten pertama yang membawa Denmark ke putaran final Piala Dunia 1986.

Mengawali penampilannya di klub lokal B 1901, Olsen menghabiskan sebagian besar kariernya di klub-klub Belgia sebelum mengakhirinya di Bundesliga Jerman.

Itu dulu, era 1970-1989. Setelah itu, Olsen dikenal sebagai pelatih. Dia pernah membawa FC Koeln keluar dari jurang degradasi. Di Ajax Amsterdam, ia mempersembahkan dua trofi untuk klub asal Belanda tersebut.

Jabatan pelatih Denmark dipegangnya pada 2000. Semua bermula dari kegagalan pelatih Bo Johansson, yang menukangi timnas pada Euro 2000. Pada turnamen di Belgia dan Belanda itu, Denmark menjadi satu-satunya tim yang selalu kalah dan tidak mencetak satu gol pun di fase grup.

Di bawah tangan dingin Olsen, Denmark berubah menjadi tim berkarakter menyerang. Dari bek hingga striker, tua maupun muda, pemain utama maupun cadangan, semuanya memiliki orientasi menggempur lawan. Olsen juga dikenal fleksibel dalam meracik tim dan membuka hatinya untuk para pemain muda.

Di situlah letak kehebatan Olsen. Dengan materi pemain yang ada, ia masih dapat meracik tim dan taktik permainan secara jenius. Sebutan “Olsen Gang” pun disematkan untuk skuad Denmark, yang ternyata merujuk kepada Egon Olsen. Egon Olsen adalah tokoh fiktif dalam film serial “The Olsen Gang” yang pernah terkenal pada 1925. Tokoh Egon digambarkan sebagai gembong penjahat yang jitu menyusun rencana untuk para pengikutnya sekalipun ia mendekam dalam penjara.

Kekuatan utama Olsen ada pada kedua sayap dan ini menjadi ciri khas taktik permainannya. Formasi 4-4-2 yang sebelumnya digunakan oleh Johansson diubah menjadi format 4-3-3, sama seperti ketika ia melatih Ajax. Olsen juga menanamkan optimisme tinggi kepada para pemainnya.

“Denmark tidak akan menjadi salah satu favorit (juara PD 2010). Namun, jika pemain-pemain terbaik kami bugar, dan itu tidak terjadi di babak kualifikasi, kami dapat meraih banyak hal,” kata Olsen seperti dikutip FIFA.com.

Tomasson “Tertawakan” Portugal


Kapten Timnas Denmark, Jon Dahl Tomasson, menyindir sinis Portugal yang mulai panik saat akan menghadapi timnya di kualifikasi Piala Dunia 2010, Sabtu (5/9). Menurutnya, Portugal sampai membeli striker agar serangannya lebih tajam.

Portugal memang sedang terancam gagal ke putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Mereka berada di urutan ke-3 Grup 1 dengan nilai 9. Adapun Denmark memimpin klasemen dengan nilai 16, diikuti Hungaria yang sudah mengumpulkan nilai 13.

Jika kalah dari Denmark, peluang Portugal untuk lolos semakin kecil. Maka, pada pertandingan itu, Portugal memanggil striker asal Brasil, Liedson. Dia menjadi pemain asing ketiga setelah Deco dan Pepe.

“Mereka memang membutuhkan striker murni sehingga harus ke Brasil untuk membeli seorang striker,” sindir Tomasson tentang dipanggilnya Liedson.

“Denmark tak akan melakukan hal itu, begitu juga dengan negara-negara Skandinavia lainnya. Tapi, itu tak masalah buatku,” tambahnya.

Denmark akan menjadi tuan rumah saat melawan Portugal. Mereka membutuhkan kemenangan agar lekas menjamin tiket ke Afrika Selatan.

Sementara itu, gelandang Denmark, Simon Kjaer, mengatakan, kunci kemenangan adalah dengan mematikan Cristiano Ronaldo. “Denmark harus melakukan apa pun untuk mematikan Ronaldo,” ungkapnya. (AP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: