Belanda

Membalik Arah Kincir Keberuntungan

BELANDA merupakan salah satu negara dengan tradisi sepak bola kuat. Derasnya arus regenerasi yang menjamin kelangsungan tradisi total football, sejak diluncurkan Rinus Michel dengan dirigen Johan Cruyff pada awal 1970-an, membuat mereka selalu diperhitungkan sebagai salah satu favorit juara.

Sayangnya, modal itu tak didukung oleh nasib baik. Dalam delapan penampilannya sepanjang sejarah Piala Dunia, prestasi terbaik Belanda mentok di tingkat runner-up pada 1974 dan 1978. Padahal, mengingat Belanda merupakan produsen dan penyedia pemain untuk klub-klub besar Eropa, mereka layak untuk menjadi juara, seperti yang terjadi pada negara penghasil pemain top, misalnya Brasil atau Argentina.

Tak usah jauh-jauh ke Piala Dunia. Ketika Piala Eropa 2008 Austria-Swiss digelar, lihat saja bagimana impresifnya aksi Belanda. Salah satu yang sulit dilupakan, tentunya ketika mereka memukul Italia 3-0. Toh, meski mampu mempertahankan performa apik di setiap laga, mereka tak bisa melangkah lebih jauh dari babak perempat final. Satu-satunya sukses besar mereka terjadi saat juara Piala Eropa 1988.

Belanda bukannya tak menyadari jeleknya garis tangan mereka di turnamen-turnamen besar. Namun, sebagai negeri sepak bola yang tak kalah seniornya dari Italia, Brasil, dan Argentina, pantang bagi mereka untuk melempar handuk sebelum berangkat. Bermodal rekor kemenangan 100 persen di babak kualifikasi, inilah waktu yang tepat bagi pelatih Bert van Marwijk untuk membalik putaran kincir keberuntungan mereka di daratan Afrika.

Jika mereka juara Piala Eropa 1988 berkat ada bakat-bakat besar seperti Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard, kini pun sebenarnya mereka punya banyak bakat. Memang tak ada nama-nama sebesar mereka. Namun, kualitas Belanda cukup merata di semua lini sehingga peluang untuk juara pun seharusnya besar. Nama-nama seperti Wesley Sneijder, Robin van Persie, Arjen Robben, Nigel de Jong, dan Dirk Kuyt cukup menjadi andalan. Tinggal menunggu arah angin keberuntungan. (Tjatur Wiharyo)

Statistik
Top skorer:
Dirk Kuyt dan Klaas-Jan Huntelaar (3 gol)
Menit terbanyak: Joris Mathijsen (720 menit)
Kartu terbanyak: Nigel de Jong dan Robin van Persie (masing-masing dua kartu kuning)

Daftar Pemain
Kiper:

Maarten Stekelenburg, Piet Velthuizen, Michel Vorm

Bek:
Khalid Boulahrouz, Edson Braafheid, Johnny Heitinga, Joris Mathijsen, Giovanni Van Bronckhorst, Gregory Van Der Wiel

Gelandang:
Ibrahim Afellay, Ryan Babel, Wout Brama, Nigel De Jong, Demy De Zeeuw, Orlando Engelaar, Dirk Kuyt, Arjen Robben, Stijn Schaars, Wesley Sneijder, Mark Van Bommel, Rafael Van der Vaart

Penyerang:
Otman Bakkal, Eljero Elia, Klaas-Jan Huntelaar, Robin Van Persie

Bert van Marwijk: Sabar Menjawab Keraguan

NAMA Bert van Marwijk memang kurang akrab bagi banyak penggila sepak bola dunia. Namun, ia bukan orang baru di dunia si kulit bulat ini. Pada rentang waktu 1969 dan 1988, ia menggeluti karier sepak bola profesional.

AZ Alkmaar adalah salah satu klub yang pernah dibelanya. Meski kariernya di level klub cukup lumayan, ia tidak begitu populer di level timnas. Sepanjang kariernya, ia cuma sekali mengenakan kostum “De Oranje”.

Merasa tak terlalu bagus sebagai pemain, pada 1982 Van Marwijk mulai beralih ke dunia kepelatihan bersama tim level junior. Setelah gantung sepatu pada 1988, ia menjadi pelatih profesional. Prestasi terbaiknya ketika mengantar Feyenoord menjuarai Piala UEFA (sekarang Liga Europa) pada 2002.

Mengingat reputasi Van Marwijk yang biasa-biasa saja, baik sebagai pemain maupun pelatih, banyak orang meragukan kemampuannya ketika diangkat menjadi pelatih Belanda pada 2008 silam. Namun, Van Marwijk tutup telinga dan fokus kepada pekerjaannya. Keteguhan Van Marwijk berujung lolosnya Belanda ke putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, dengan rekor kemenangan seratus persen di babak kualifikasi.

Pencapaian itu layak membuktikan, Van Marwijk pantas menjadi arsitek permainan “Negeri Kincir Angin”. Namun, demi nama besar Johan Cruyff dan prestasi Belanda sebagai finalis pada Piala Dunia 1974 dan 1978, hanya trofi Piala Dunia-lah yang betul-betul bisa mengubah cibiran menjadi sanjungan. Selain itu, bagi Van Marwijk sendiri, mengantar Belanda menjadi juara dunia akan membuat reputasi dan kariernya tak lagi biasa-biasa saja.

Wesley Sneijder: Kreator “Kincir Angin”

PIALA Eropa 2008 Austria-Swiss pantas disebut sebagai era keemasan Wesley Sneijder bersama timnas. Aksinya ketika mencetak gol kedua Belanda ke gawang Italia di babak penyisihan grup membuat namanya menempel di sel-sel kelabu pecinta sepak bola “Negeri Kincir Angin”. Saat itu, usai menerima umpan dari Dirk Kuyt, ia melepaskan tendangan voli dalam gaya akrobatik, yang membuat kiper sekelas Gianluigi Buffon melongo.

Belanda sendiri kemudian menutup laga itu dengan kemenangan meyakinkan, 3-0. Itu adalah kekalahan terbesar kedua Italiaa, setelah pada 1983 dihancurkan Swedia dengan marjin yang sama.

Memang, penampilan impresif Belanda hanya mentok di babak perempat final. Namun, Sneijder telah menunjukkan dirinya sebagai kreator permainan Belanda. Seiring bertambahnya pengalaman, Sneijder berpeluang mengangkat kembali nama Belanda dan dirinya sendiri di Afrika Selatan.

Toh, permainannya sangat stabil dan cenderung meningkat. Membela Inter Milan, dia menjadi tulang punggung dan kreator permainan. Bahkan, pelatih Jose Mourinho mengatakan, Sneijder membuat permainan timnya berbeda dan dia merupakan pemain yang dibutuhkan selama ini.
TUR

One Response to “Belanda”

  1. odonmekOrdido Says:

    Dzieki za ciekawy blog


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: