Australia

Kanguru yang Ingin Melompat Tinggi

AUSTRALIA melanjutkan kisah manis perjalanannya menuju putaran final Piala Dunia. “Tim Kanguru” untuk ketiga kalinya tampil di pesta sepak bola terakbar di dunia ini.

Sepak bola negeri benua ini memang terbilang unik. Pasalnya, sepak bola tumbuh bersama dengan datangnya orang-orang dari luar Australia sejak awal Abad 20. Kedatangan para “orang asing” tersebut membuat sepak bola pun lebih berkembang. Mereka membuat klub sesuai dengan asal negara. Misalnya, orang Yahudi punya klub sendiri bernama Hakoah, begitu juga pendatang lainnya.

Akibatnya, Australia kerap kehilangan pemain berkualitas karena lebih memilih negara asalnya atau di negara Eropa. Tindakan ini tak bisa disalahkan juga kerena sepak bola Australia selalu dianggap kelas dua, bahkan kelas tiga. Christian Vieri bisa menjadi contoh. Ia tumbuh besar di Australa, tapi kemudian memutuskan membela Italia.

Meskipun demikian, Australia tetap saja tak selalu sial akibat kehilangan bintangnya. Mark Viduka memilih menjadi pemain Australia meski keturunan Kroasia. Mark Schwarzer yang berdarah Jerman lebih memilih membela Australia ketimbang Jerman. Begitu juga dengan Harry Kewell yang berdarah Inggris.

Pemain yang datang dan pergi ini mungkin menjadi salah satu faktor Australia jarang tampil di kancah Piala Dunia. Selain itu, Australia yang berada di Zona Oseania harus berhadapan dengan tim sisa dari kawasan Amerika Latin.

Alhasil, tiga kali sudah mereka kandas. Pada 1994, Australia kalah dari Argentina. Hal yang sama terjadi pada 1998. Mereka juga takluk oleh Uruguay pada babak play-off Piala Dunia 2002.

Federasi Sepak Bola Australia pun harus memeras otak untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Mereka menilai, meski menjadi juara di konfederasi Pasifik dan Oseania, timnya harus berhadapan dengan wakil dari Amerika Latin yang tergolong berat. Akhirnya, mereka pun mendapat solusi dengan masuk ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFP) pada Maret 2005. “Pindah rumah” ini cukup menguntungkan karena mereka juga bisa lebih berkompetisi.

Australia pertama kali tampil pada Piala Dunia 1974. Namun sayang, mereka hanya sampai di putaran pertama, setelah disingkirkan Jerman Barat.

Dua belas tahun berselang, Australia datang ke Jerman. Mereka lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 setelah mengalahkan Uruguay di babak play-off.  Australia tampil mengejutkan di Jerman. Di bawah komando Guus Hiddink, Australia lolos ke babak 16 besar meski berada di grup maut bersama Brasil, Kroasia, dan Jepang. Sayang, Australia gagal memenuhi ambisinya ke perempat final setelah takluk 0-1 oleh Italia dalam pertandingan yang kontroversial.

Selanjutnya, dinakhodai Pim Verbeek, Australia cukup tampil memesona. Pada putaran keempat Grup A Zona Asia, Australia menjadi yang terbaik di antara Jepang, Bahrain, Qatar, dan Uzbekistan. Mereka tak terkalahkan dari delapan pertandingan dengan meraih enam kemenangan dan sisanya hasil imbang. Alhasil, Australia menjadi juara grup dan mendapat tiket ke Afrika Selatan secara langsung.

Publik Australia optimistis mereka mampu bersaing dengan Jerman, Australia, Serbia, dan Ghana yang menghuni Grup D. Bahkan, mereka berharap ini saatnya “Tim Kanguru” melompat lebih tinggi. (Ferril Dennys)

Pencetak Gol terbanyak: Brett Emerton (4 Gol)

Skuad Australia
Kiper:
Ante Covic
Mark Schwarzer

Defender
Brett Emerton
Patrick Kisnorbo
Mark Milligan
Craig Moore
Lucas Neill
Rhys Williams

Gelandang
Marco Bresciano
Tim Cahill
Nick Garle
David Carney
Sott Chipperfield
Vicenzo Grella
Harry Kewll
Shane Lowry
Carl Valeri
Dario Vidosic
Luke Wilkshire
Mile Jedinak

Striker
Jason Culina
Brett Holman
Joshua Kennedy
Scott McDonald

Pim Verbeek: Ketularan Kehebatan Hiddink

PIM Verbeek beruntung menjadi asisten Guus Hiddink melatih Timnas Korea Selatan (Korsel). Itu pengalaman pertamanya bergulat dengan tim nasional, apalagi bekerja dengan pelatih sekelas Hiddink. Dan, Korsel di tangan Hiddink sukses menembus semifinal Piala Dunia 2002.

Setelah membantu Hiddink, kariernya terus menanjak. Pada 6 Desember 2007, ia resmi sebagai pelatih Australia, menggantikan Hiddink yang memilih menangani Timnas Rusia. Ia memberikan kemenangan 3-0 atas Qatar pada debutnya sebagai pelatih “The Socceroos”.

Pelatih asal Belanda ini memang banyak mulai banyak makan asam-garam dalam dunia kepelatihan. Bekerja sama dengan Guus Hiddink membuatnya memiliki banyak ilmu dan pengalaman yang ditularkan rekannya itu.

Ia memulai karier kepelatihannya dengan menangani Sparta Rotterdam pada 1981. Setelah itu, ia menangani De Graafchap, Feyenoor Rotterdam, FC Groningen, Fortuna Sittard, Omiya Ardija, Kyoto Purple Sanga, Netherland Antilles, dan Borussia Mochengladbach.

Federasi Sepak Bola Australia memang tak sia-sia telah merekrut Verbeek. Bagaimana tidak, Verbeek berhasil membawa Australia tak terkalahkan di putaran terakhir babak kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Asia. Kesuksesan Verbeek tersebut karena ia berhasil memperkokoh setiap elemen pada skuadnya.

Publik Australia pun optimistis negaranya bisa unjuk gigi di Afrika Selatan setidaknya menembus putaran kedua.

Tim Cahill: Sang Dinamisator

TIMOTHY Joel Cahill atau yang dikenal dengan Tim Cahill merupakan salah satu pemain penting di Timnas Australia. Cahill adalah seorang gelandang yang berani, percaya diri, dan pekerja keras. Selain itu, ia juga terkenal lihai dalam pertarungan bola-bola di udara dan punya naluri mencetak gol yang baik.

Maka, tak salah Everton membelinya pada 2004 silam. Ia tampil impersif pada musim pertamanya dengan menjadi pencetak gol terbanyak. Wajar ia selalu tampil sebagai starter.

Cahill mengawali kariernya dengan timnas pada 2006. Pada Piala 2006, Cahill berhasil membawa negaranya lolos ke babak 16 besar. Padahal saat itu, Australia menghuni grup maut kerena tergabung bersama Brasil, Kroasia, dan Jepang.

Meskipun demikian, Cahill berhasil membawa Australia lolos sebagai runner-up Grup F. Pada laga perdana, Cahill mencetak gol dan sekaligus mengantarkan timnya menang 3-1 atas Jepang.

Kepadanya pula, Australia banyak berharap. Dia merupakan dinamisator permainan tim yang cerdik dan sangat menentukan.

C16-09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: