Argentina

Kembalinya Maradona

PERJALANAN Argentina menuju putaran final Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini tak semulus seperti yang diperkirakan. Bermaterikan pemain-pemain top, baik di kompetisi lokal maupun Eropa, “Albiceleste” malah nyaris tersingkir secara tragis karena sempat berada di zona kritis.

Beruntung, dalam dua laga pamungkas babak kualifikasi Zona Amerika Selatan melawan Peru dan Uruguay, Lionel Messi dan kawan-kawan bisa bangkit dan meraih kemenangan krusial sehingga keluar dari kondisi yang mengkhawatirkan. “Tim Tango” akhirnya menduduki peringkat empat di klasemen akhir, dan menggeser Uruguay ke peringkat lima–yang artinya, Uruguay harus melakukan play-off melawan tim dari Zona Amerika Utara, yaitu Kostarika, untuk memperebutkan satu tiket ke Afrika Selatan.

Ketika Argentina sedang berada di ujung tanduk, banyak kalangan yang khawatir Piala Dunia 2010 bakal “hambar” karena tanpa kehadiran “tim Biru Langit” ini. Pasalnya, Albiceleste merupakan tim yang selalu menghadirkan sensasi tersendiri di turnamen empat tahun tersebut. Jadi, tak heran jika kehadiran mereka selalu dinanti-nantikan.

Dalam sejarah keikutsertaannya di Piala Dunia, Argentina baru dua kali menjadi juara, yaitu pada tahun 1978 dan 1986, yang melahirkan dua nama beken yang tak terlupakan, Mario Kempes dan Diego Armado Maradona. Nama terakhir sangat melegenda, karena selain penuh tekhnik dan atraktif, dia juga membuat gol kontroversial yang akhirnya mendapat sebutan “gol Tangan Tuhan”, ketika Argentina mengalahkan Inggris 2-1 di perempat final Piala Dunia 1986, sebelum menjejakkan kaki di final dan mengalahkan Jerman Barat 3-2.

Empat tahun berselang, Argentina datang ke Italia dengan kekuatan yang nyaris tak jauh berbeda dengan ketika menjadi juara di Meksiko. Maradona kembali menjadi sosok sentral “Albiceleste” yang kembali difavoritkan untuk bisa mempertahankan gelarnya.

Namun pada partai pembukaan, di luar dugaan Argentina takluk 0-1 dari Kamerun. Setelah itu, “tim Tango” yang terhenyak langsung bangkit, dan bisa melewati fase penyisihan grup dan lolos ke putaran kedua untuk menyisihkan Brasil. Langkah Argentina mulus, termasuk ketika menyingkirkan tuan rumah Italia di semifinal, lewat adu penalti, setelah skor selama waktu pertandingan 1-1.

Sayang, di final Argentina harus mengakui keunggulan Jerman Barat lewat gol penalti yang kontroversial dari Andreas Brehme. Pupuslah harapan Argentina untuk mempertahankan gelar, sekaligus menyabet trofi paling bergengsi ini untuk ketiga kalinya.

Di Amerika Serikat pada tahun 1994, Argentina yang tetap membawa sang mega bintang Maradona, kembali menjadi favorit. Tetapi perjalanan mereka mendapat rintangan yang sangat berat, karena Maradona harus meninggalkan timnya sebelum menuntaskan perjuangan. Playmaker bertubuh gempal tersebut terbukti positif menggunakan doping sehingga langsung dicoret, dan ini juga menjadi tanda berakhirnya era sang legenda.

Sejak itu, perjalanan Argentina di Piala Dunia tak pernah mulus lagi. Prestasi terbaik tim biru langit ini adalah maju hingga perempat final, yang dilakukan di Perancis pada 1998, serta di Jerman tahun 2006. Bahkan ketika tampil di Asia, di mana Korea Selatan-Jepang menjadi tuan rumah, Argentina langsung tersingkir di penyisihan grup karena kalah bersaing dengan Swedia dan Inggris (dari tiga pertandingan, Argentina hanya dua kali imbang dan sekali kalah).

Nah, di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini Argentina berusaha menghapus catatan buruk yang ditorehkan dalam empat perhelatan terakhir. Datang dengan sejumlah nama top, Argentina punya potensi menghancurkan semua musuhnya untuk mengakhiri penantian selama 24 tahun. Apalagi, dalam tubuh tim ada si striker mungil, Lionel Messi, yang disebut-sebut sebagai jelmaan Maradona. gocekan dan permainan atraktif, serta gol-gol yang pernah dicetaknya, mengingatkan orang kepada Maradona, sehingga striker Barcelona ini mendapat julukan “The New Maradona”.

Artinya, kali ini Argentina datang dengan era ‘Maradona Baru’. Selain muncul sosok Messi si Maradona Baru, Albiceleste juga tampil dengan “the real Maradona”, yang tampil lagi di event sepak bola terakbar ini sebagai pelatih, untuk membangkitkan kembali gairah Piala Dunia 1986.

Hanya saja, Argentina yang tergabung di Grup B harus mewaspadai lawan-lawannya. Meskipun level para rivalnya masih di bawah, tetapi tim seperti Nigeria dan Yunani selaku juara Eropa 2004 memiliki potensi untuk menjegalnya. Korea Selatan yang meraih prestasi tertinggi sebagai semifinalis Piala Dunia 2002, juga bisa menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan. (Aloysius Gonsaga AE)

Catatan Sejarah Argentina di Piala Dunia
1930 – Runner-up
1934 – Tersingkir di putaran pertama
1938 – Tidak berpartisipasi
1950 – Tidak berpartisipasi
1954 – Tidak berpartisipasi
1958 – Tersingkir di putaran pertama
1962 – Tersingkir di putaran pertama
1966 – Tersingkir di perempat final
1970 – Tidak lolos kualifikasi
1974 – Tersingkir di putaran kedua
1978 – JUARA
1982 – Tersingkir di putaran kedua
1986 – JUARA
1990 – Runner-up
1994 – Tersingkir di putaran kedua
1998 – Tersingkir di perempat final
2002 – Tersingkir di putaran pertama
2006 – Tersingkir di perempat final

Rekor Tim di Piala Dunia
Kemenangan terbesar: 6-0 vs Peru pada 1978 dan 6-0 vs Serbia & Montenegro pada 2006.
Kekalahan terbesar: 1-6 vs Cekoslovakia pada 1958.
Top skorer sepanjang masa: Gabriel Batistuta (10 gol).
Penampilan terbanyak: Diego Maradona (21 pertandingan).
Tuan rumah Piala Dunia: 1978

Maradona Membuat Sepak Bola Penuh Warna

DUNIA sepak bola semakin penuh warna ketika sosok bernama Diego Armando Maradona muncul. Selain aksi-aksi memukau yang mengundang decak kagum, pria kelahiran Lanus, Argentina, pada 30 Oktober 1960 ini juga melahirkan kontroversi yang kemudian menjadi “tren”, yaitu gol Tangan Tuhan.

Ya, puncak prestasi Maradona selama menjalani karier sebagai pemain sepak bola adalah di Piala Dunia 1986, ketika membawa Albiceleste menjadi juara. Dia mengawalinya dengan aksi kontroversi dan spektakuler di perempat final, ketika mengalahkan Inggris 2-1, sebelum akhirnya menaklukkan Jerman Barat di final.

Saat mencetak gol pertama ke gawang Inggris, Maradona menggunakan tangannya. Meskipun tubuhnya pendek, dia berhasil memenangi duel dengan penjaga gawang “The Three Lions”, Peter Shilton, karena tangannya lebih lihai dari Shilton. Saat duel di udara, tangan Maradona berhasil menyodok bola yang membuat si kulit bundar meluncur ke dalam gawang Inggris. Wasit yang tak melihat “drama” itu menunjuk titik di lapangan tengah, yang berarti gol tersebut sah.

Setelah mencetak gol kontroversial itu, Maradona membayarnya dengan sebuah gol yang sangat spektakuler sehingga FIFA menyatakan gol tersebut merupakan yang terbaik sepanjang masa. Dari lapangan tengah, pemain dengan tinggi 1,65 meter tersebut melewati lima pemain Inggris: Glenn Hoddle, Peter Reid, Kenny Sansom, Terry Butcher, Terry Fenwick, dan terakhir mengecoh Shilton, sebelum melesakkan bola ke dalam gawang.

Di semifinal, dia kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang maestro lapangan hijau. Dari kakinya kembali lahir dua gol yang membuat Argentina menang 2-0 atas Belgia, untuk maju ke final dan bertemu Jerman Barat. Di sini, lagi-lagi Maradona memberikan kontribusi yang sangat besar karena assistnya kepada Jorge Burruchaga memastikan Argentina yang sempat tertinggal 0-2 menjadi juara dunia setelah menang 3-2.

Setelah itu, Argentina tak pernah juara lagi walaupun di Piala Dunia 1990 mereka kembali ke final untuk bertemu lagi dengan Jerman Barat. Kali ini Argentina kalah 0-1 lewat gol penalti Andreas Brehme. Meskipun demikian, Maradona telah menorehkan namanya sebagai pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola di muka bumi ini. Maradona yang juga terlibat narkoba, mengakhiri karier pada tahun 1997.

Pensiun dari lapangan hijau, Maradona tetap berkecimpung di dunia sepak bola yang telah membesarkan namanya. Dia beralih profesi menjadi pelatih. Maradona mengawali kariernya sebagai pelatih di klub Mandiyu of Corrientes pada tahun 1994, bersama dengan mantan gelandang Argentinos Juniors, Carlos Fren. Semusim kemudian, pria berusia 49 tahunj ini menangani Racing Club.

Tahun 2008, ketika pelatih timnas Argentina Alfio Basile meletakkan jabatan, nama Maradona masuk nominasi untuk menjadi pengganti. Meskipun pengalamannya masih minim dan prestasinya pun nyaris tak ada ketika menjadi pelatih klub, Maradona menyatakan kesiapannya untuk menakhodai “Albiceleste”.

Ternyata, nama besar Maradona membuat dia terpilih menjadi pelatih kepala timnas Argentina, mengalahkan para kandidat lain seperti Diego Simeone, Carlos Bianchi, Miguel Angel Russo dan Sergio Batista. 29 Oktober 2008, Presiden AFA Julio Grondona mengonfirmasi bahwa mulai Desember 2008, Maradona akan secara resmi menjalankan tugasnya sebagai pelatih timnas.

Debutnya bersama “tim Tango” pada 19 November 2008 cukup bagus, karena ketika melawan Skotlandia dalam pertandingan persahabatan di Glasgow, mereka menang 1-0. Ini merupakan bagian dari persiapan Argentina menghadapi lanjutan kualifikasi Piala Dunia Afrika Selatan 2010 zona Amerika Selatan.

Namun prahara mulai menerpa Maradona tatkala Argentina mendapat malu di markas Bolivia dalam pertandingan kualifikasi yang berlangsung pada 1 April 2009. Waktu itu Argentina kalah 1-6, sehingga mengundang reaksi yang sangat keras dari publik negara tersebut karena mereka menilai, hasil tersebut merupakan yang terburuk sepanjang sejarah sepak bola Argentina.

Selanjutnya, perjalanan Argentina mulai tersendat. Bahkan, ketika babak kualifikasi menyisakan dua pertandingan lagi, Argentina masih berada di zona play-off karena menempati urutan lima. Ini yang membuat posisi Maradona semakin terdesak, apalagi media Argentina meragukan kemampuannya untuk membawa “Tim Biru Langit” menuju Afrika Selatan. Nada-nada sumbang yang menyuarakan agar Maradona mundur pun mulai terdengar.

Akan tetapi, bukan Maradona namanya jika dia menyerah ketika menghadapi situasi tersebut. Dengan keberanian yang tersisa, dia berhasil membawa Argentina keluar dari kondisi kritis karena dalam dua partai terakhir melawan Peru dan Uruguay, mereka berhasil meraih kemenangan. Dengan demikian, Argentina mendapat tiket langsung ke Afrika Selatan karena menempati peringkat empat klasemen akhir zona Amerika Selatan.

Setelah kualifikasi ini, Maradona kembali membuat kontroversi karena balik menyerang media Argentina. Menurutnya, kemenangan dan kelolosan Argentina dipersembahkan kepada semua masyarakat, kecuali media Argentina. Ini merupakan balasannya kepada media yang sering mengecam dan meragukan kemampuannya membawa Argentina ke Afrika Selatan.

Atas perbuatannya tersebut, Maradona diganjar skorsing selama dua bulan oleh FIFA karena dinilai berperilaku tidak pantas. Selain tidak boleh aktif di semua kegiatan sepak bola dalam lingkup FIFA selama masa skorsing itu–termasuk dilarang hadir pada acara pengundian grup pada 4 Desember 2009 lalu–, dia juga dikenai denda sebesar 14.750 poundsterling atau sekitar Rp 230 juta.

Di Afrika Selatan nanti, kemampuan Maradona kembali diuji. Racikan taktik dan strateginya ditunggu khalayak, agar dia bisa membawa Argentina yang tergabung di Grup B melewati adangan “si Elang” Nigeria, “Macan Asia ” Korea Selatan dan “Negeri 1.000 Dewa” Yunani.

Lionel Messi: Momen Penyempurnaan

KETIKA Lionel Messi menyabet penghargaan Ballon d’Or 2009, nyaris semua insan sepak bola di muka bumi ini tak terkejut, karena hal tersebut sudah diprediksi. Pemain dengan tinggi 1,69 meter tersebut memiliki segalanya untuk mendapatkan predikat Pemain Terbaik Eropa lantaran prestasi yang ditorehkan bersama klub Barcelona.

Musim 2008/09 menjadi kiprah terbaik pemain kelahiran Rosario, Argentina, 22 tahun silam tersebut, karena berhasil mengantarkan klubnya meraih tiga gelar sekaligus. Sukses merajai La Liga, Messi juga sukses membawa El Barca menjadi juara Piala Raja Spanyol dan berakhir dengan gelar Liga Champions. Inilah yang membuat Messi berhasil menyingkirkan Cristiano Ronaldo yang musim lalu menyabet gelar Ballon d’Or.

Sebenarnya, Messi sudah menunjukkan bakat dan kemampuan mengolah si kulit bundar ini sejak masih kecil. Talentanya itu membuat Barcelona tak ragu untuk menggaetnya dari Newell’s Old Boys pada tahun 2000, dan dimasukkan ke akademi sepak bola. Benar, ternyata perkembangan Messi sangat pesat dan hanya berselang empat tahun dia sudah masuk skuad senior “El Barca”.

Gaya dan skillnya membuat orang teringat akan kehebatan pemain legendaris Diego Armando Maradona, sehingga Messi mendapat sebutan “new Maradona”. Predikat tersebut dia pertegas dengan aksi-aksi yang mirip, bahkan serupa dengan apa yang sudah dilakukan Maradona saat meraih kejayaannya di era 1980 hingga 1990.

Pada 18 April 2007, Messi mencetak dua gol ke gawang Getafe pada semifinal Piala Raja Spanyol. Satu dari dua gol itu dia ciptakan seperti ketika Maradona mengoyak jala Inggris pada perempat final Piala Dunia Meksiko 1986, yang terkenal dengan sebutan Goal of the Century. Media Spanyol pun memasang label Messi sebagai “Messidona”.

Dari sekitar jarak 63 meter, Messi melewati enam pemain, termasuk kiper, untuk menceploskan si kulit bundar ke gawang yang sudah tidak terkawal–posisi menggiring bola hingga mencetak gol itu, mirip dengan apa yang dibuat Maradona 21 tahun silam. Pujian pun meluncur dari rekan-rekannya, termasuk dari Deco. “Itu merupakan gol terbaik yang pernah saya lihat sepanjang hidupku,” ungkap gelandang asal Portugal itu, yang sekarang membela Chelsea.

Tak berhenti di situ. Aksi “nakal” Maradona ketika mencetak gol “Tangan Tuhan” ke gawang Inggris juga kembali dilakukan Messi saat melawan Espanyol. Menyambut umpan silang, tangan Messi dengan cepat menyambar bola, yang membuat penjaga gawang Carlos Kameni tak kuasa membendungnya.

Namun, kehebatan Messi ini tampaknya tidak sempurna jika dia belum mempersembahkan prestasi terbaik bagi tim nasional Argentina, seperti yang dilakukan Maradona. Nah, Piala Dunia Afrika Selatan 2010 ini bisa menjadi momen pembuktiannya sehingga dia 100 persen bisa menyamai “the real Maradona”, yang bukan cuma sukses di level klub, tetapi juga di timnas, ketika mengantar “Albiceleste” juara dunia tahun 1986.

LOU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: