Afrika Selatan

Bahana Bafana Bafana

Tim Nasional Afrika Selatan

SOAL nama, Afrika Selatan memang tak bisa dibandingkan dengan Brasil, Argentina, Italia, Jerman, Inggris, atau Perancis. Mereka belum punya rekor yang baik di Piala Dunia. Tapi, Piala Dunia 2010 akan digelar di negara mereka. Dan, tim berjuluk Bafana Bafana (Pemuda Pemuda) ini tak bisa diremehkan.

Semangat mereka akan begitu membahana. Ini persoalan kebanggaan dan harga diri bangsa, juga simbol persatuan rakyat yang pernah tercabik-cabik dalam sistem apartheid atau pembedaan ras. Itu pula sebabnya, mereka punya moto Ke e: Xarra Ke, sama seperti Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tapi satu juga.

Seperti yang dikatakan kapten Afsel, Aaron Mokoena, “Kami semua sadar ini kehormatan besar bisa menggelar Piala Dunia di tanah kami. Tak banyak pemain yang bisa merasakan kehormatan seperti ini. Kami juga sadar tugas berat di depan. Bagi kami, Piala Dunia adalah prioritas, cita-cita terbesar. Kami harus mewakili negara dengan kebanggaan.”

Bahana Bafana Bafana sudah terbukti ampuh. Ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Afrika pada 1996, tak ada yang memprediksi bakal juara. Faktanya, Afsel justru tampil sebagai juara setelah mengalahkan Tunisia 2-0 di final.

Padahal, baru empat tahun Afsel diterima kembali di kompetisi internasional dan diakui FIFA. Mereka sempat dikeluarkan dari FIFA, karena masalah apartheid.

Sebelum Piala FA, tokoh antiapartheid dan presiden mereka saat itu, Nelson Mandela mengatakan, sepak bola adalah wahana efektif untuk mewujudkan persatuan. Maka, prestasi akan semakin memperkokoh persatuan.

Pesan tokoh legendaris dan karismatis itu tentu masih kuat dan tetap menjadi kekuatan moral Bafana Bafana dalam menghadapi Piala Dunia 2010 nanti. Mereka juga menunjukkan kemajuan berarti. Di Piala Konfederasi baru lalu, mereka masuk final dan hanya kalah tipis dari Brasil maupun Spanyol.

Bagaimanapun, tuan rumah tak bisa disepelekan. Afsel juga punya tradisi sepak bola yang kuat. Hanya saja, mereka pernah terpecah-pecah karena pembedaan ras.Dulu, untuk warga kulit putih, mereka punya asosiasi sepak bola sendiri bernama SAFA yang berdiri pada 1892. Sedangkan untuk warga Bantu memiliki asosiasi SABFA yan berdiri pada 1903. Warga Indian punya SAIFA (1933) dan warga berwarna memiliki SACFA (1936).

Jika saat masih terpecah-pecah mereka punya kemampuan bermain bola dengan baik, apalagi sekarang mereka sudah bersatu. Dalam semangat Ke e: Xarra Ke, mereka bisa membahana dan mampu membuat lawan-lawannya gentar, setidaknya tak meremehkannya. (Hery Prasetyo)

Steven Pienaar: Si Kacang Perkasa

Steven Pienaar

TUBUHNYA memang terkesan kecil. Namun, dia amat kuat dan bertenaga, juga lincah menjelajah ke berbagai wilayah.

Itulah Steven Pienaar. Dia dianggap bintang paling bersinar di Afrika Selatan. Pemain Everton ini memang serbabisa. Dia jago bermain di sayap kanan atau kiri.

Kemampuan lengkap, bertenaga, lincah, dan dinamis. Karena itu pula dia dijuluki “Mighty Peanut” atau  “Kacang Tangguh”. Julukan ini meniru julukan bintang Italia pada Piala Dunia 1990, Salvatore Schillaci.

Keduanya memang punya gaya permainan yang berbeda, tapi sama-sama kurus dan bertenaga. Maka, terkadang Pienar juga dijuluki Schillo, menyingkat nama Schillaci.

Merintis karier di Ajax Cape Town, Pienaar memang menunjukkan bakat besar sejak kecil. Maka, pada 2001 dia langsung direkrut Ajax Amsterdam. Permainannya makin berkembang dan dia ikut membawa Ajax juara Eredivisie pada musim 2001-02 dan 2003-04.

Pada Januari 2006, dia dibeli Borussia Dortmund. Pienaard diharapkan mampu menggantikan posisi Tomas Rosicky yang pindah ke Arsenal. Namun, dia kesulitan bekerja sama dengan pemain lain. Bahkan, beberapa pemain kurang senang dengan gaya permainannya.

Pienaar pun kemudian dipinjamkan ke Everton pada 2007, dan setahun kemudian menjadi pemain permanen “The Toffees”. Di Everton, kemampuannya kembali bersinar dan dia menjadi pemain reguler yang diandalkan tim.

Kepadanya pula, Afsel banyak berharap. Dia dinilai mampu menjadi dinamisator permainan tim. Selain punya nama besar, dia juga punya permainan yang bisa memengaruhi timnya.

Efisiensi Maksimal, Nir Kesalahan

Carlos Alberto Parera

CARLOS Alberto Parreira memang orang Brasil. Namun, dia tergolong pelatih yang prakmatis. Baginya, permainan boleh indah, tapi yang diutamakan adalah efisiensi maksimal dan menghindari kesalahan sekecil apa pun.

Itu pula yang membuatnya mendapat kritik tajam saat menangani Brasil pada Piala Dunia 1994. Banyak yang menilai dia telah merusak sepak bola indah Brasil, Jogp Bonito. Tapi, dia yakin dengan pendiriannya.

Toh, akhirnya dia sukses memuaskan kerinduan warga Brasil yang sudah 24 tahun tak juara Piala Dunia. Di tangan Parreira, Brasil juara Piala Dunia 1994, meski bermain kurang indah.

Maka, Afrika Selatan (Afsel) menyewanya kembali sebagai pelatih. Meski dia pernah gagal bersama Afsel di Piala Afrika 2008, namun mereka sadar pelatih bukan faktor utamanya. Pengalaman dan sukses Parreira menangani tim menjadi jaminan.

Dia akan menyamai Bora Milutinovic yang menangani lima tim berbeda di Piala Dunia. Artinya, pengalamannya memang sangat kaya. Tak pernah sukses sebagai pemain, dia intensif berkarier sebagai pelatih sejak usianya 24, pada 1967.

Dia juga berpengalaman menghadapi kompetisi kelas dunia yang ketat, sebab sudah menjadi pelatih fisik di Timnas Brasil pada Piala Dunia 1970. Setelah itu, kepelatihannya makin terasah dan dia pun mulai menangani tim-tim besar. Selain Brasil, dia juga pernah menangani Kuwait, uni Emirat Arab, dan Arab Saudi di Piala Dunia.

Karena pengalamannya itu, dia diharapkan mampu mengangkat prestasi Afsel di Piala Dunia 2010 nanti. Dia sadar harapan itu amat besar. “Targetnya masuk ke putaran kedua. Setelah itu akan seperti lotere. Bagaimana peluang ke babak selanjutnya, akan tergantung dari undian. Harapan publik Afsel sangat tinggi, emosional, dan terkadang tak rasional,” kata Parreira.

Namun, dia tetap siap menghadapi semuanya dengan beban berat. Baginya, Afsel punya potensi berprestasi. Apalagi, ini di kandang sendiri.

Kuncinya, Afsel harus efisien dalam bermain dan nir kesalahan. Itu filosofinya. Keindahan nomor dua. Jika sudah bermain efisien dan tak ada kesalahan, maka perjalanan Afsel bisa lancar entah sampai babak ke berapa.(*)

HPR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: