SMI “Dikorbankan”, Rupiah Melemah?


KOMPAS.com – Pertemuan Kebijakan Moneter minggu ini dari Indonesia akan menjadi fokus utama para pelaku pasar.

Meski Bank Indonesia kemungkinan besar belum menaikkan suku bunganya pada pertemuan nanti, namun data inflasi yang baru dirilis mulai mendekati level 4 persen, yang mana level tersebut merupakan level dimana Bank Indonesia perlu meyakinkan para pelaku pasar bahwa inflasi menjadi prioritas utama.

Maka, kita dapat saja melihat perubahan bahasa eksplisit dari Bank Indonesia jika inflasi kembali meroket, yang berarti akan memicu apresiasi Rupiah di jangka pendek.

Resiko pelemahan masih muncul dari situasi politik dimana Sri Mulyani masih mungkin diturunkan dari jabatan Menteri Keuangan dalam sebulan atau dua bulan kedepan, berutang pada kasus skandal Bank Century.

Jika skenarionya Sri Mulyani jadi diturunkan, calon terkuat penggantinya adalah Anggito Abimanyu, saat ini merupakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal yang masih dibawah naungan Kementrian Keuangan.

Meskipun calon pengganti Sri Mulyani sudah termasuk berpengalaman baik secara akademis dan kemungkinan tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan fiskal jangka panjang jika beliau yang menjabat, tapi tetap saja Sri Mulyani sudah diuntungkan dengan memiliki “high profile” di kalangan para investor, sementara Abimanyu belum dikenal sama sekali oleh investor asing, akibatnya pengunduran diri Sri Mulyani masih akan berimbas negative pada sentiment para investor.

Faktor eksternal secara garis besar sebenarnya masih pada trend penguatan dollar, akibat meningginya spekulasi kenaikan suku bunga The Fed sejalan dengan membaiknya data-data ekonomi AS. Selain data ekonomi yang membaik tentunya faktor pengalihan resiko akibat default obligasi Negara Eropa seperti Yunani, Spanyol, Portugal, Irlandia tentunya dapat memicu penguatan dollar. Pola penguatan dollar ini sudah tampak minggu lalu ketika terjadi penurunan peringkat hutang Yunani, meskipun disaat bersamaan data ekonomi Durable Goods AS tidak terlalu bagus.

Sentimen terhadap rupiah juga bakal didukung oleh arus modal asing (capital inflow) terkait pembelian obligasi dalam negeri. Sejauh ini rupiah telah meraih posisi sebagai mata uang dengan performa terbaik di pasar emerging Asia, dengan penguatan hampir 1,6 persen tahun ini.

Analisa teknikal pada grafik USD/IDR H4, dapat kita lihat rupiah telah menembus channel bearish-nya dan ini merupakan indikasi penguatan rupiah lebih lanjut setidaknya ke area 9.200 – 9.150, bagaimanapun harga perlu menembus level 9.250 secara konsisten untuk melanjutkan momentum bullish.

Resisten terdekat ada di 9.350, pelemahan diatas area tersebut ada potensi target ke area 9.450 – 9.560. Namun untuk mengirimkan rupiah ke level tersebut perlu ada pemicu respon negative pasar dari hasil sidang paripurna Century nanti.

Rupiah masih didominasi oleh pola perdagangan jangka pendek hingga saat ini , sehingga strategi yang terbaik adalah beli di area support atau jual di area resisten, dengan stop loss ketat. (Albertus CK/Senior riset dan analis Monex)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: