Anak Sering Dengar Suara Misterius, Normalkah?


Selasa, 26 Januari 2010 | 09:26 WIB

KOMPAS.com — Riset menunjukkan, hampir satu dari 10 anak berusia tujuh hingga delapan tahun diperkirakan sering mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Meski begitu, orangtua tak perlu khawatir karena “kemampuan” tersebut tidak akan mengganggu pola berpikir anak.

“Suara-suara ini secara umum memiliki pengaruh yang terbatas pada kehidupan sehari-hari. Pada banyak kasus, sebagian besar suara yang didengar oleh anak akan menghilang dengan sendirinya. Saya menyarankan para orangtua untuk menenangkan mereka dan mengawasinya dengan lebih dekat lagi,” kata Agna A Bartels-Velthuis dari University Medical Center Groningen, Belanda.

Dalam riset yang dipublikasikan Journal of Psychiatry itu, peneliti juga menyatakan, sekitar 16 persen anak dan remaja yang mentalnya sehat mungkin juga pernah mendengar suara-suara misterius tersebut.  Meski “mendengar suara” dapat menjadi pertanda adanya risiko mengidap skizofrenia dan gangguan mental lainnya, peneliti menyatakan, mayoritas anak dan remaja yang mengalami semacam halusinasi pendengaran ini tak mengalami gangguan jiwa.

Untuk meneliti kaitan antara “halusinasi suara auditori” dan faktor pertumbuhan serta perilaku anak, Bartels-Velthuis dan timnya melibatkan 3.870 anak sekolah yang ditanyai apakah mereka mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain.

Sembilan persen anak menjawab ya dan hanya 15 persen anak mengatakan suara-suara tersebut menyebabkan mereka menderita. Sebanyak 19 persen lainnya menjawab, suara-suara itu mengganggu pola pikir mereka. Meski suara-suara itu didengar baik oleh anak laki-laki atau perempuan, anak perempuan mengaku lebih cemas dan menderita karena suara yang mereka dengar.

Studi sebelumnya menyebutkan, suara yang didengar anak-anak disebabkan oleh komplikasi yang terjadi pada saat mereka dalam kandungan. Namun, Bartels-Velthuis dan timnya tidak menemukan kaitan tersebut.

Awalnya, para peneliti  juga memperkirakan, suara-suara yang didengar lebih sering dialami oleh anak di perkotaan ketimbang yang tinggal di pedesaan. Namun, secara mengejutkan, yang terjadi justru sebaliknya. “Hal yang bertolak belakang justru terjadi pada sampel (penelitian) kami, tetapi kami tidak bisa menjelaskan temuan ini,” ungkap peneliti.

Walaupun lebih jarang mendengar suara misterius, anak-anak kota justru lebih sering merasa terganggu dengan suara ini. Mereka lebih sering mengeluh mendengar beberapa suara pada suatu saat tertentu, suara orang yang berbicara lama, dan suara yang mengganggu pikiran mereka.

Menurut peneliti, keluhan yang sangat mengganggu mengindikasikan bahwa anak-anak kota yang mendengar suara ini mungkin memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan psikotik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: